Di Cirebon, terdapat bangunan masjid yang merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia yaitu Masjid Merah Panjunan. Masjid satu ini sudah terkenal sebagai masjid tua kuno berarsitektur Arab-Tionghoa dan memiliki banyak fakta menarik.
Keistimewaan Masjid Merah Panjunan terletak pada akulturasi budaya Arab, Cina, Eropa dengan warga setempat. Sekarang, wilayah Panjunan menjadi Kampung Arab dengan berbagai aktivitas religius lainnya.
Simak yuk fakta menarik tentang masjid yang menjadi bagian dari sejarah ini. Mari kita bahas bersama-sama!
Sejarah Indonesia Masjid Merah Panjunan di Cirebon

Tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah, Masjid Merah Panjunan juga ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Cirebon. Selain merupakan saksi akulturasi budaya dan penyebaran agama Islam di Cirebon, berikut fakta menarik lainnya yang dapat Anda ketahui:
-
Dibangun Pada Abad Ke-15
Masjid yang bangunannya masih kokoh ini dibangun pada abad ke-15, tepatnya pada tahun 1480. Pendirinya seorang syekh asal Baghdad yaitu Syekh Syarif Abdurrahman ketika melakukan misi penyebaran agama Islam di Indonesia.
Untuk ornamen Tionghoa yang mirip klenteng ditambahkan oleh Putri Ong Tien yang merupakan istri Sunan Gunung Jati. Beliau merupakan satu dari Wali Songo yang perannya penting bagi sejarah Indonesia dan bagi pembangunan masjid ini di Cirebon.
-
Arti Jumlah Tiang
Fakta berikutnya adalah tentang filosofi bangunan masjid, yang mana pintu masuk ke dalam berukuran sangat kecil. Sehingga, setiap orang yang ingin masuk untuk solat harus menunduk terlebih dahulu.
Artinya, setiap orang yang ingin masuk Masjid Merah Panjunan harus bersifat rendah hati dan menunduk saat menghadap Allah. Dari sisi arsitektur, jumlah tiang Masjid Merah Panjunan adalah 17.
Jumlah tersebut sesuai dengan jumlah rakaat solat lima waktu. Bangunan tembok masjid juga terdapat piring-piring dari Tiongkok yang sudah berusia 700 tahun lebih. Karena keunikannya, maka tidak heran masjid ini menjadi cagar budaya dan sejarah Indonesia.
-
Berkaitan dengan Migrasi Orang Arab
Masjid Merah Panjunan juga menjadi saksi sejarah migrasi orang Arab (khususnya Baghdad) ke Cirebon. Tercatat oleh berbagai sejarah, tiga orang Arab pertama yang datang ke Cirebon adalah Syekh Syarif Abdurrahman dan tiga adiknya.
Tujuan awal memang ingin menyebarkan agama Islam, khususnya di Cirebon. Sehingga pada abad ke-15, beliau sampai di laut Cirebon dan mulai menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat sekitar.
-
Semula Bernama Musholla Al-Athya
Sebelum menjadi masjid dan cagar budaya dan sejarah Indonesia, Masjid Merah Panjunan semula bernama Musholla Al-Athya. Berawal dari cicit Sunan Gunung Jati memerintah Kesultanan Cirebon, musholla ini diberi pagar bata merah.
Itulah awal penyebutan masjid merah, yang juga menjadi lambang keberanian umat Islam untuk selalu berkata jujur. Musholla Al-Athya yang menjadi saksi sejarah pertemuan berbagai etnis membuat pembangunannya diperbesar.
Maka, hingga sekarang bangunannya masih kokoh dan menjadi saksi sejarah Indonesia paling penting. Khususnya bagi warga Cirebon yang mana keberadaan masjid menunjukkan proses akulturasi budaya dan penyebaran agama yang sukses.
-
Kawasan Sekitar Jadi Tempat Dakwah
Karena keberadaan Masjid Merah Panjunan yang tidak hanya menjadi cagar budaya tetapi juga tempat ibadah, maka kawasan sekitarnya menjadi tempat dakwah bagi warga sekitar dari awal dibangun hingga sekarang.
Nama Panjunan pun diberikan oleh Pangeran Cakrabuwana yang artinya tempat pembuatan gerabah tanah liat. Setelah Pangeran Cakrabuwana memerintahkan Syekh Syarif Abdurahman untuk mengayomi masyarakat.
Itulah fakta menarik dari Masjid Merah Panjunan yang perlu Anda ketahui. Penyebaran agama Islam dan proses akulturasi budaya selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. Proses akulturasi budaya yang damai merupakan keberhasilan yang penting untuk dicontoh.
Sejarah Indonesia yang kaya wajib dipahami agar masyarakat dapat belajar dan bijak untuk memahami kehidupan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Salah satunya belajar tentang akulturasi budaya yang sukses dari Masjid Merah Panjunan.

